Pendahuluan
Di dalam negara yang masyarakatnya bercorak “plural society”
seperti Indonesia, pengetahuan tentang interaksi sosial yang terjadi antara
satu kelompok masyarakat dengan kelompok masyarakat lainnya sangatlah
penting.Dengan mengetahui dan memahami perihal kondisi yang dapat menimbulkan
serta mempengaruhi bentuk interaksi sosial tertentu. Sedangkan pengertian
“interaksi sosial” dalam artian umum dimaksudkan sebagai hubungan sosial yang
dinamis, yang menyangkut hubungan antarperorangan, antarkelompok, dan antara
perorangan dengan kelompok manusia. Menurut Young, interaksi sosial ialah kunci
dari semua kehidupan sosial, karena tanpa itu tidak akan ada kehidupan sosial.
Sedangkan Bonner mendefinisikan interaksi sosial sebagai suatu hubungan antara
dua atau lebih individu manusia, dimana individu yang satu mempengaruhi,
mengubah dan memperbaiki kelakuan individu yang lain, atau sebaliknya. Apalagi
definisi itu dihubungkan dengan definisi dari Gillin dan Gillin, maka hubungan
sosial yang dinamis tersebut akan berarti sebagai suatu proses pengaruh
mempengaruhi antarmereka yang mengadakan interaksi sosial.Sebagai makhluk
sosial, manusia cenderung untuk selalu berhubungan dengan lingkungannya. Adapun
terjadinya interaksi sosial selalu didahului oleh suatu kontrak sosial dan
komunikasi. Kontrak sosial dapat terjadi dalam bentuknya: (1) antarperorangan,
(2) antara perorangan dengan kelompok manusia, dan (3) antar sesama kelompok.
Terjadinya interaksi sosial dapat dipengaruhi oleh adanya
jarak sosial dari pelaku interaksi itu sendiri. Menurut Astrid S Susanto, jarak
sosial itu ditentukan oleh faktor obyektif dan subyektif sehingga muncul
istilah “jarak sosial obyektif dan subyektif”. Faktor obyektif misalnya, jarak
yang disebabkan oleh keadaan geografis dengan kesukaran transportasi, adanya
perbedaan dalam tingkat pendidikan, agama, etnis, dan status social ekonomi.
Faktor subyektif ialah perasaan dan pikiran seseorang terhadap orang lain yang
hendak diajak berkomunikasi.Interaksi sosial hanya akan berlangsung apabila
individu atau sekelompok mempunyai harapan mencapai tujuan, bahwa dengan
berinteraksi itu ia mempunyai perasaan maju atau berkembang karenanya. Adapun
berlangsung suatu proses interaksi sosial, didasari pula oleh beberapa faktor
yaitu imitasi, sugesti, simpati, dan identifikasi.
Imitasi adalah proses meniru apa yang dimiliki oleh orang
lain menjadi miliknya sendiri. Imitasi dapat berlangsung dalam bentuknya
seperti cara berbahasa, tingkah laku tertentu, cara memberi hormat, mode adat
istiadat, dan tradisi lainnya. Imitasi terjadi apabila seseorang menaruh
minat/perhatian yang cukup besar dan adanya sikapnya menjunjung tinggi atau
mengagumi sesuatu yang ditiru. Selain itu, karena yang ditiru dianggap
mempunyai penghargaan tinggi, sehingga seseorang yang meniru yang tinggi dari
lingkungannya
Sugesti adalah proses dimana seorang individu menerima cara
penglihatan atau pedoman tingkah laku dari orang lain tanpa kritik terlebih
dahulu. Sugesti terjadi karena yang bersangkutan mengalami hambatan berfikir,
dalam keadaan bingung, dan keadaan memandang orang lain lebih tinggi (otoriter
atau prestise), karena kebanyakan orang telah terlibat dank arena pandangan
yang disampaikan telah lama menjadi keinginannya.
Simpati adalah perasaan tertariknya seseorang terhadap orang
lain. Simpati timbul bukan atas dasar logis rasional, tapi semata-mata tertarik
dengan sendirinya dan tertarik tidak karena salah satu ciri tertentu, melainkan
karena keseluruhan cara bertingkah laku seseorang.Sedangkan identifikasi adalah
dorongan untuk menjadi identik dengan seseorang. Identifikasi dilakukan orang
kepada orang lain yang dianggap ideal dalam satu segi, untuk memperoleh sistem
norma, sikap, dan nilai-nilainya yang dianggapnya ideal dan masih
kekuranganbagi dirinya.
Interaksi sosial dapat berbentuk negatif dan positif.
Interaksi negatif misalnya berupa pertentangan atau persaingan dan yang positif
dapat mengarah terjadinya kerja sama. Bahkan menurut Coser, pertentangan atau
konflik sebagai bentuk dari interaksi sosial yang negatif dalam suatu masyarakat
tidak saja akan menimbulkan akibat negatif, tetapi juga dapat menimbulkan
akibat positif. Konflik terjadi karena adanya perbedaan pendapat, faham, atau
mungkin kepercayaan. Konflik juga terjadi karena adanya, rasa curiga dalam
interkasi sosial disebabkan adanya pandangan tidak wajar mengenai golongan lain
atau stereotip negatif yang sering telah mendarah daging.
Adapun interaksi sosial berbentuk positif akan cenderung
mengarah pada terjadinya kerja sama, yang memudahkan terjadinya integrasi
sosial. Proses integrasi itu sendiri bukanlah sesuatu yang berjalan dengan
cepat, karena merupakan suatu proses mental dan ikatan berdasarkan norma
kelompok yang mengatur tingkah laku bagaimana orang itu berbuat. Integrasi
terjadi apabila: (1) anggota masyarakat merasa tidak dirugikan dalam
kelompoknya dan bahwa keuntungan yang diperoleh lebih besar daripada kerugian,
(2) apabila terdapat penyesuaian faham tentang norma, artinya tentang apa dan
bagaimana seharusnya orang bertingkah laku, bagaimana tujuan masyarakat harus
dicapai, dan (3) apabila norma yang berlaku tersebut, cukup konsisten dan
karena membentuk suatu struktur tertentu yang jelas. Fase dan terjadinya
integrasi social itu melalui akomodasi, kerjasama, koordinasi, dan asimilasi.
Isi
Desa Tulungrejo yang berada di kecamatan Pare kabupaten
Kediri merupakan satu daerah dengan yang terletak 25 km sebelah timur laut kota
Kediri atau 120 km barat daya kota Surabaya, Tulungrejo berada pada jalur
Kediri-Malang dan jalur Jombang-Kediri serta Jombang- Blitar. Daerah yang
berketinggian 125 mdpl ini menjadi daerah yang subur, hal ini juga ditunjang
dengan melimpahnya material akibat letusan dari Gunung Kelud. Mayoritas
masyarakat yang bermata pancaharian petani dengan kesuburan lahan dan
kekayaan alam yang melimpah memberikan kesibukan yang lebih pula terhadap
aktifitas masyarakat sehingga perhatian terhadap dunia pendidikan baik dari
orang dewasa maupun anak-anak semakin berkurang, hal ini mempengaruhi
kebiasaan-kebiasaan masyarakat dalam mengikuti perkembangan era modernisasi.
Berawal dari pendatang yang bernama pak Kallen akhirnya
muncullah lembaga pendidikan sederhana yang memngajarkan bahasa Inggris pada
kampung tersebut, kualitas yang dibawah telah membawah perubahan terhadap
beberapa bagian masyarakat yang sadar akan pentingnya dunia pendidikan. Hal ini
juga berdampak terhadap dunia pendidikan luar daerah yang mendorong masyarakat
luar kota untuk datang kedaerah tersebut.
Semakin berkembangnya dunia pendidikan bahasa Inggris yang
ada didaerah tersebut sehingga daerah Tulungrejo dipenuhi oleh para pendatang
hal ini akan berdampat terhadap interaksi sosial antara masyarakat pribumi
dengan para para pendatang. Baik dampak positif maupun dampak negatif.
a.
Dampak
positif
Aspek ekonomi
Dampak yang dimunculkan dari banyaknya para pendatang secara
ekonomi akan meningkatkan sumber ekonomi masyarakat Tulungrejo, yang dulunya
mereka hanya mengandalkan dari mata pancahariaan petani karena banyaknya para
pendatang menyebabkan munculnya berbagai usaha baru antara lain, penginapan,
warung makan, took, jasa administrasi hal inji akan meningkatkan pula
perkembangan desa dalam meningkatkan kesejahteraan dan kenyamanan masyarakat.
Aspek pendidikan
Pendidikan yang merupakan aset perkembangan suatu daerah
sangatlah penting untuk masyarakat dalam mendukung baik moril maupun spiritual,
dukungan tersebut bisa dimunculkan dari faktor luar maupun faktor dari dalam
masyarakat itu senddiri baik secara kelompok maupun individu, hal ini terjadi
pada kampong inggris desa Tulungrejo kecamatan Pare kabupaten Kediri. Dengan
datanganya para akademisi dari berbagai daerah yang mayoritas pada tingkatan
universitas dengan pola pikir yang lebih berkembang secara langsung maupun
tidak langsung mempengaruhi tingkat pendidikan masyarakat yang ada di desa
tersebut, motifasi untuk belajar dan meneruskan kejenjang perhuruan tinggi jauh
lebih meningkat. Namun hal ini tidak dirasakan semua masyarakat Tulungrejo.
b. Dampak negatif
Kebiasaan
Masyarakat pribumi yang memiliki kebiasaan jauh bisa diterima
dan diterapkan oleh masyarakat itu sendiri namun dengan munculnya pendatang dan
hingga mayoritas daerah dipenuhi oleh para pendatang dengan berbagai kebiasaan
dan budayanya sehingga mempengaruhi kebiasaan masyarakat pribumi pula, hal ini
akan berdapak buruk terhadap masyarakat yang belum bisa beradaptasi terhadap
budaya luar/baru yang masuk di daerah tersebut. Dampak yang dimunculkan karena
perbedaan kebiasaan yang dibawa para pendatang antara lain, Secara kelompok
masyarakat pribumi akan merasa terasingkan karena dominasi para pendatang
sehingga memaksa masyarakat untuk memilih bersosialisasi di daerah luar
Tulungrejo.Dampak secara perorangan yang dimunculkan akibat banyaknya para
pendatang akan mempengaruhi kebiasaan seseorang baik secara moril maupun pola
pikir. Pergaulan bebas yang dimunculkan dan dibawa oleh para pendatang akan
berdampak negatif terhadap masyarakat yang secara cepat merubah pola
kebiasaannya dari kebiasaan pribumi menjadi kebiasaan modernisasi. Bagi
masyarakat yang belum bisa mencerna atau menyaring pola-pola budaya luar akan
berdampak buruk terhadap pola yang dibawa.
Penutup
Kesimpulan dari pembahasan diatas secara teoritis interaksi
sosial, budaya luar sangat mempengaruhi kebudayaan pribumi. Hal ini akan
berdampak pada berbagai hal baik dampak sosial maupun dampak individu. Bagi
masyarakat yang belum siap untuk menerima perubahan budaya luar secara cepat
akan memunculkan dampak buruk terhadap budaya pribumi. Di lain pihak,
masyarakat yang sudah siap dan mampu menyaring budaya luar maka akan membawa
dampak positif terhadap perkembangan masyarakat tersebut.
Referensi: Soemardjan,
p.D.1998.Steriotipetnik, Asimilasi, Integrasi Sosial, Jakarta: PT Pustaka
Grafika Kita.
Silahkan berikan tanggapan untuk "Pengaruh Pendatang Terhadap Interaksi Sosial Masyarakat Pribumi "
Post a Comment